Beranikah kita melawan hujan?

Di sini hujan
Begitu jugakah di tempatmu?
Hujan kali ini benar-benar membawa sendu
Entah hanya rasa yg ada dalam dadaku atau karena langit yang murung membuat semua sendu

Kadang aku berharap ada kau di sisiku
Menikmati hujan ini bersama
Aku menyeduh kopiku dan kau dengan teh hangatmu
Kita menertawakan anak-anak kecil yang bermain hujan d halaman rumah kita
Aku tahu kau inggin kita bersama menari di bawah hujan dan berharap hujan tak akan pernah reda
Namun sang waktu membuat kita tersadar bahwa itu hanya membuat kita akan lama terkurung di kamar-kamar lembab.

Tapi kini aku tersadar, kita ada di bawah hujan yang berbeda
Kau di bawah payung merah jambumu dan aku di bawah atap toko yang mulai di matikan lampunya.
Mungkin yang kita butuhkan sekarang adalah beranjak.
Memulai kembali saling menyapa dan berbicara beberapa baris kata.

Beranikah kita melawan hujan ?

26-4-2018

Di salah satu sudut borneo yang sedang hujan

Malam di Tepian Hindia

image

Pernahkah kita bertanya perasaan pasir pantai? Dia selalu dibawa mendekat pada pantai dan ditarik kembali menuju laut oleh gelombang.

Mungkin dia merasa lelah karena dimanja harapan namun kenyataan tak pernah merubah keadaan.

Pernahkah kita bertanya bagaimana rasa menjadi batu karang yang selalu dihantam oleh gelombang tanpa mampu membalasnya? Bahkan karenanya karang menjadi rapuh dan berubah menjadi butiran pasir.

Mungkin dia merasakan ketidakadilan, untuk apa ada, terlihat begitu kuat, bahkan sebagai simbol kekuatan dan keteguhan hati,  bila nyatannya begitu rapuh oleh benda selembut air sekalipun.

Pernahkan kita bertanya pada air? Bagaimana dia begitu kuat dengan siklus yang menyeretnya dari lautan menjadi hujan turun di bumi dan “kembali” menuju lautan?

Iya “kembali”, karena tak semua air akan bermuara di lautan. Dia mungkin akan tertahan di di danau-danau, tertahan dalam sumur-sumur, dan yang paling menyedihkan tertahan dalam genangan-genangan selokan yang berisi kotoran dan kumpulan bakteri.

Bagaimana bila kau adalah air yang terpisah dari ibumu yang ada di lautan sana dan kau terjebak di selokan-selokan kotor di gang-gang. Masihkah kau pertanyakan rindunya? Masihkah kau tanyakan berapa besar kecewanya?

#####

Tapi benarkah mereka merasakan apa yang kita sangkakan? Mungkin tidak, Semoga tidak, Pasti Tidak.

Kerena semua yang mereka lakukan adalah sebuah keimanan mahkluk kepada penciptanya.  Bukankah “setiap mahkluk diciptakan untuk beribadah kepada-Nya”?. Dan mereka ikhlas menjalani semuanya sebagai suatu ibadah dan kecintaan pada penciptanya.

Lalu bagaimana kita?
Sudahkan seikhlas pasir, karang, dan air? Semoga

Tepian Hindia
Panggandaran
17-10-15
23.17

Kenapa Ada Sepi?

image

Kenapa ada sepi?
Apakah sepi adalah kabar yang berupaya menakut-nakuti kebersamaan yang memang tak abadi.
Apakah sepi adalah sebuah peringatan bahwa semua dalam keadaan sendiri. Aku sendiri, kamu sendiri, dan kita sendiri.
Sepi mungkin adalah sebuah peringatan kepada kita untuk menghargai setiap kesempatan dan waktu untuk bersama.

Karena setelah bersama
Kita akan kembali sendiri
Atau mungkin
Setelah sendiri kita akan bersama

Di bawah langit malam
Madiun
12-9-15

Tamparan Syawal

Syawal kemarin saya dikunjungi beberapa teman ke rumah, mulai dari teman SD saya, sampai teman kuliah saya. Namun ada 2 orang yang benar-benar berhasil menampar saya, dan tanpa dapat saya mengelaknya.

Yang pertama adalah teman sewaktu saya masih SD, waktu SD dia adalah salah seorang teman terbaik saya. Ketika SD dia menjadi salah satu murid yang paling sering dapat peringkat pertama, dan saya rasanya selalu dibawahnya (hehehe). Ada kebisaan yang cukup aneh mungkin antara saya dan dia dulu, yaitu setiap istirahat kita tiduran di lantai halaman sekolah dan menjadikan awan sebagai peta untuk di jadikan bahan tebak-tebakan. “Kuwi mirip benua endi?” (Itu mirip dengan benua mana?) sambil menunjuk satu awan yang sedang lewat diatas kita. Atau kita pergi ke sawah dan main di kali, ataupun berbagai permainan anak-anak di kala itu.

Kemarin waktu syawal dia datang kerumah, dan kita pun melakukan pembicaraan lagi, setelah kita tidak pernah bertemu dan melakukan pembicaraan lama sekali, seingat saya terakhir ketemu dia dan bicara agak panjang adalah ketika kita masih SMP dimana kita kebetulan ketemu saat pulang sekolah.

Mungkin selama ini Allah memberikan saya nikmat lebih dalam hal pendidikan, karena dia hanya lulusan SMP. Walau mungkin bila dia mendapatkan kesempatan yang sama dengan saya, dia akan jadi lebih baik dari saya. Kini dia bekerja sebagai buruh di peternakan ayam, dan dia punya impian untuk dapat kerja menjadi TKI di negeri K-Pop, karena gajinya mengiurkan. Dia berharap dengan pergi ke sana dapat merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik, hidupnya menjadi lebih layak seperti halnya orang-orang yang lain.

Teman saya kedua, dia adalah teman sejak SMP bahkan sampai kuliah. Kita satu SMP tapi beda kelas, kemudian kita teman satu SMA, bahkan saat kita kelas 1 dan kelas 3 kita selalu satu bangku yang sama, saat kuliah pun kita di universitas yang sama, hanya saja kita kuliah di fakultas yang berbeda, dan lokasi kampus kamipun berbeda.

Pertemuan saya dengannya berawal saat kita les ditempat yang sama, dan ternyata kakak dia adalah teman dari kakak saya, bahkan orang tua dia juga kenal orang tua saya.

Kami sangat akrab saat SMA, karena kami di kelas yang sama. Saya ingat saat itu kita sering sekali bicara tentang impian-impian kita. Dia bermimpi suatu hari dia bisa pergi ke jepang dan kuliah di sana, serta bisa membuat gundam (dia fans nomor 1 anime khususnya gundam, dan karenanya saya juga sedikit suka gundam). Dia adalah seorang pemimpi yang sangat terencana, sedangkan saya entahlah apa namanya.

Sejak saya mengenalnya saya sangat kagum dengannya, bagaimana keberaniannya, optimismenya, kecerdasannya, dan banyak hal lainya.

Dia adalah “partner in crime” saya saat SMA, karenanya saya kenal lomba-lomba, karenanya saya kenal organisasi, karenanya saya berani bermimpi sangat tinggi,  karenanya saya selalu ingat untuk berprestasi, karenanya pula saya suka baca novel (hehehe).

Sampai hari ini dia telah berhasil mewujudkan impiannya satu-persatu,
Dia telah berhasil ke jepang untuk exchange saat kuliah, dia beberapa kali dikirim kampusnya ke luar negeri, dan bulan depan dia akan berangkat melanjutkan S2-nya di Taiwan karena beasiswa. Saya selalu ingin untuk menjadi lebih dari dia, atau setidaknya saya dapat menyamainya, tapi sampai hari ini saya selalu tertinggal jauh olehnya.

Kemarin saat dia datang ke rumah, dia hanya datang sebentar saja tak seperti biasanya. Tak banyak pembicaraan serius diantara kita, tapi beberapa kalimatnya berhasil menampar saya, sangat telak, sangat keras,  sampai saya saya tak benar-benar mampu melawannya. Bahkan cara dia melihat saya seolah menampar saya.

Sering kali dia mengatakan bahwa saya itu pintar, saya itu bisa melakukan ini dan itu, disaat saya sendiri tak benar- benar merasa dan meyakininya. Bahkan dia sering kali meyakinkan itu kepada orang tua saya. Saat kedatangannya syawal itu mungkin dia kecewa, mungkin melalui tatapannya dia ingin bicara “Hanya inikah kemampuanmu?”. Dan kadang dengan caranya menatap saya seperti itu dia berhasil menyadarkan saya. Sebelum akhirnya dia pulang kala itu dia sempat bilang bahwa “hidup ini tidak gampang”.

Melalui mereka saya diajarkan untuk terus bersyukur, karena bagaimanapun kondisi saya, saya telah mendapat nikmat lebih dari-Nya.

Melalui mereka saya diingatkan untuk tetap memelihara impian-impian itu, bagaimanapun keadaanya, mereka telah membangunkan impian-impian saya yang seolah selama ini terbelenggu dalam diri yang kadang kadang lupa dan salah arah.

Syawal ini menampar saya untuk meluruskan niat, bahwa dunia ini adalah ladang pengabdian yang sangat luas, bahwa setiap impian bukanlah hanya untuk kita, melainkan sarana mengabdi dan menjadi berarti bagi lebih banyak manusia lainnya.

Merdeka, Tak Sebatas Upacara Bendera

image

Untukmu setiap manusia yang telah berkorban untuk negeri ini.

Maaf
Maafkan kami, karena penggorbannmu mungkin kau sesali, setiap tetes darahmu hanyalah sia-sia, karena kami hari ini masih sibuk mencari kekuasaan,  mencari jabatan, rebutan harta kekayaan.

Maaf
Maafkan kami, kalau kau berharap dengan merdeka sandang, pangan, papan akan tercukupi, tapi nyatanya negara kaya ini tak cukup memenuhi kebutuhan kami, kami terlalu rakus, karena sepiring nasi tidaklah cukup mengganjal perut kami, karena satu rumah tak cukup melindungi kami. Bila bisa kami ingin semua jadi milik kami. Tak usahlah peduli dengan saudara-saudara kami, kalau perlu kami jadi tuan atas saudara-saudara kami.

Maaf
Maafkan kami, walau kalian telah berhasil mengusir belanda, jepang, inggris dari negeri ini. Tapi kami telah dengan sukarela membiarkan mereka membawa pergi minyak kita, emas kita, nikel kita, batu bara kita, gas bumi kita, bahkan mungkin kini mereka telah membawa harga diri kita.

Maaf
Maafkan kami, bila dengan merdeka kau berharap negeri ini menjadi negeri yang di hormati oleh negeri-negeri lain.
Tapi kami hari ini setiap hari berharap dapat bantuan uang agar bisa memenuhi gaya hidup kami, bahkan hari ini beraspun kita beli ke vietnam padahal setiap hari kami makan nasi, kedelai kita beli jauh-jauh dari negerinya patung liberty padahal tahu dan tempe sumber gizi utama kami.

Maaf
Maafkan kami, bila dengan merdeka kau berharap rakyat negeri ini tak lagi dijadikan buruh di negeri sendiri, karena hari ini kami tak hanya buruh di negeri sendiri, tapi kami hari ini juga mengirim buruh-buruh dari bangsa kami ke luar negeri.

***
70 tahun negeri ini menyatakan diri sebagai negeri merdeka, tapi rasanya merdeka hanyalah romantisme dalam upacara bendera, pidato kenegaraan para pejabat negera.

Bagiku, Merdeka adalah ketika setiap anak negeri ini mampu mewujudkan mimpi mereka, tanpa perlu takut mimpi itu  hanya menjadi mimpi, karena kebenaran diperjual belikan, ketika kejujuran adalah kebodohan, ketika semua hal merupakan hubungan transaksional.

Kota Pahlawan
17 Agustus 2015

29 Ramadhan (Perpisahan)

Hari ini kita berpisah. Seperti kataku, aku tak pernah suka pada perpisahan, perpisahan apapun. Walau tak mau berpisah adalah kesiasian. Setiap pertemuan hanyalah rajutan menuju perpisahan. Kali ini aku harus kembali berpisah.

Benar, bila ada yang berkata bahwa kadang sesuatu terasa berharga ketika benar-benar telah pergi, dan kita menyesalinya di akhir waktu. Aku inggin bersama selamnya. Tapi benar-benar tak ada yang selamanya.

Banyak orang yang merasa bahagia dengan perpisahan ini. Bahkan banyak diantara mereka berpesta untuk merayakan perpisahan ini. Aku tak mengerti bagaimana mereka bisa menyambut perpisahan ini dengan mengelar arak-arakan dan begitu bahagia? Bahkan karena perpisahan ini mereka saling berlomba memakai baju baru untuk merayakannya.

Aku tak inggin berpisah. Karena aku tak tahu masihkah tahun depan aku akan dapat berjumpa dengannya lagi. Karena tak pernah ada yang tahu masih tersisakah waktu kita di dunia ini.

Bila mereka berkata ini adalah penyesalan biarkanlah, karena aku memang benar-benar menyesal. Aku menyesal karena masih banyak waktuku yang kuhabiskan untuk bermesraan dengan kasur dan selimut hangat. Aku menyesal karena masih ada sepertiga malamku yang kulewati dalam buaian mimpi. Aku menyesal karena masih banyak sunah-sunah yang terlewatkan.

Maka pantaskah aku mengatakan telah menang?
Dan pantaskah aku merayakan kemenangan?

Kaki lawu
29 Ramadhan

Secangkir Kopi Kejujuran

image

“Kenapa kau suka kopi”
“Aku tidak tahu, mungkin hanya sebatas suka saja, mungkin juga karena kopi berbeda dengan teh ataupun susu”
“Kenapa setiap kopi yang kau minum selalu tanpa gula? Bukankah itu sangat pahit?”
“Karena aku menyukainya, maka aku tak butuh apapun lagi untuk merubahnya, bukankah semua orang tahu bahwa kopi itu pahit? Bila kopi itu kau tambah dengan gula maka kau sebenarnya tak benar-benar menyukainya. Bagiku ini adalah ungkapan kejujuran, tak perlu gula atau bahkan susu untuk menikmati kopi, aku menghargai kopi sebagaimana dia berbeda degan teh, ataupun susu.
“Apa hubungan kopi dan buku bagimu? Karena selama ini aku melihatmu selalu menyandingkan keduanya”.
“Entahlah aku juga tak benar-benar mengerti soal ini, mungkin saat aku bersama buku dan kopi aku menjadi berpikir”
“Menjadi berpikir? Apa maksudnya?”
“Iya, kopi membuat kita menjadi berpikir dan pada akhirnya menyadari bahwa kadang kita bisa menikmati bahkan menyukai hal yang pahit bahkan berwarna hitam dan tak menarik, ketika dunia hanya mengejar yang manis,  dan menganggap semua yang putih dan terlihat bersih itu lebih baik. Bagiku ini hanya masalah sudut pandang, kopi mengajarkan kita untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin juga seperti itulah anugerah hidup ini, kita tak perlu terlalu dalam larut dalam kesedihan dan masalah, mungkin cukup kita menikmatinya dan pada akhirnya akan mendapatkan hikmah guna menjadi manusia yang lebih baik. Sedangkan buku adalah sarana bagiku untuk berkomunikasi dengan diriku sendiri, entahlah seolah buku membuatku lebih dekat dengan diriku sendiri.”
Kaupun hanya diam, seolah ada hal yang tak kau mengerti.

Gambar :
Continue reading “Secangkir Kopi Kejujuran”

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono)

Sekarang Juni dan tidak hujan.
Kenapa menunggu hujan juni, ketika semua tahu hujan tak datang saat juni. Benarkah ini tentang ketabahan, atau mungkin harapan yang terlalu, ataukah ini adalah rasa yang tak bersambut. Jangan terlalu percaya langit juni, dia datang dengan awan gelap yang berarak namun tak membawa hujan. Hujan juni hanya membawa harapan, harapan yang dipatahkannya sendiri.

Benarkah hujan juni bijak?
Hujan juni seperti bayangan bulan dikala matahari telah datang. Hujan juni datang di saat tidak tepat. Bukankah semua tahu hujan tak datang di kala juni. Bila hujan datang di juni dan menghapus segala jejak yang telah tercetak, maka hujan juni adalah kepengecutan. Karena jejak tak benar-benar bisa dihapuskan, setidaknya dihati, adakah yang bisa menghapus jejak di hati? Hujan belumlah cukup kuat menghapusnya, mungkin dibutuhkan badai untuk menghapus jejak, biarkan tidak hanya jejak yang terhanyut namun seluruh jiwa dan segenap raga.

Tapi memang tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni, biarkan semua yang tak terucap tetap tak terucap. Bila karena diam lahir prasangka biarlah tetap jadi prasangka. Karena semua yang yang tak terucap bukan untuk diucapkan, melainkan menjadi tindakan, menjadi doa-doa panjang. Hujan juni tak hanya mengajarkan kearifan, tapi mengajarkan keikhlasan, mengiklaskan segalanya pada Dia Yang Maha Menentukan segala urusan.

Sekarang Juni
Tidak hujan
Tapi aku basah karenanya

Sudut Kota Pahlawan
24-6-15
23.00

Waktu dan Perjalanan

Adakalanya sangat lelah, ingin berhenti, bahkan mengakhiri cerita kehidupan ini. Tapi ada kalanya begitu bahagia sampai kita lupa bahwa waktu berjalan, sedangkan kita inggin waktu abadi pada kejadian yang sama, tak inggin berpisah, tak inggin berhenti.

Waktu tetap akan berjalan, bumi tetap akan setia mengelilingi matahari, selama atas kehendak-Nya waktu kita di dunia ini masih tersisa. Pagi ini kembali bumi berhasil mengelilingi matahari satu kali lagi, dan berarti sisa umur di dunia ini berkurang satu kali putaran bumi mengelilingi matahari.

Selama waktu kita masih bersisa maka perjalanan harus tetap dilanjutkan, tak peduli kaki yang penuh sayatan, tak peduli untuk jatuh berapa kali lagi. Waktu memaksa kita untuk terus berjalan, tanpa perjalanan maka waktu tak memiliki makna, hanya sebatas angka yang berganti yang semakin lama meninggalkan kita.

Maka teruslah berjalan, teruslah merangakai kisah. Selama waktu masih ada maka masih ada kesempatan. Hidup adalah menjalani dengan pilihan-pilihan. Maka tetaplah menjalani dan tetaplah percaya pilihan hati.

Karena waktu masih ada maka berilah makna, karena semua akan menjadi percuma tanpa makna. Ini adalah perjalanan mencari makna dan memberi makna.

Kaki Lawu
23-5-15