Syawal kemarin saya dikunjungi beberapa teman ke rumah, mulai dari teman SD saya, sampai teman kuliah saya. Namun ada 2 orang yang benar-benar berhasil menampar saya, dan tanpa dapat saya mengelaknya.
Yang pertama adalah teman sewaktu saya masih SD, waktu SD dia adalah salah seorang teman terbaik saya. Ketika SD dia menjadi salah satu murid yang paling sering dapat peringkat pertama, dan saya rasanya selalu dibawahnya (hehehe). Ada kebisaan yang cukup aneh mungkin antara saya dan dia dulu, yaitu setiap istirahat kita tiduran di lantai halaman sekolah dan menjadikan awan sebagai peta untuk di jadikan bahan tebak-tebakan. “Kuwi mirip benua endi?” (Itu mirip dengan benua mana?) sambil menunjuk satu awan yang sedang lewat diatas kita. Atau kita pergi ke sawah dan main di kali, ataupun berbagai permainan anak-anak di kala itu.
Kemarin waktu syawal dia datang kerumah, dan kita pun melakukan pembicaraan lagi, setelah kita tidak pernah bertemu dan melakukan pembicaraan lama sekali, seingat saya terakhir ketemu dia dan bicara agak panjang adalah ketika kita masih SMP dimana kita kebetulan ketemu saat pulang sekolah.
Mungkin selama ini Allah memberikan saya nikmat lebih dalam hal pendidikan, karena dia hanya lulusan SMP. Walau mungkin bila dia mendapatkan kesempatan yang sama dengan saya, dia akan jadi lebih baik dari saya. Kini dia bekerja sebagai buruh di peternakan ayam, dan dia punya impian untuk dapat kerja menjadi TKI di negeri K-Pop, karena gajinya mengiurkan. Dia berharap dengan pergi ke sana dapat merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik, hidupnya menjadi lebih layak seperti halnya orang-orang yang lain.
Teman saya kedua, dia adalah teman sejak SMP bahkan sampai kuliah. Kita satu SMP tapi beda kelas, kemudian kita teman satu SMA, bahkan saat kita kelas 1 dan kelas 3 kita selalu satu bangku yang sama, saat kuliah pun kita di universitas yang sama, hanya saja kita kuliah di fakultas yang berbeda, dan lokasi kampus kamipun berbeda.
Pertemuan saya dengannya berawal saat kita les ditempat yang sama, dan ternyata kakak dia adalah teman dari kakak saya, bahkan orang tua dia juga kenal orang tua saya.
Kami sangat akrab saat SMA, karena kami di kelas yang sama. Saya ingat saat itu kita sering sekali bicara tentang impian-impian kita. Dia bermimpi suatu hari dia bisa pergi ke jepang dan kuliah di sana, serta bisa membuat gundam (dia fans nomor 1 anime khususnya gundam, dan karenanya saya juga sedikit suka gundam). Dia adalah seorang pemimpi yang sangat terencana, sedangkan saya entahlah apa namanya.
Sejak saya mengenalnya saya sangat kagum dengannya, bagaimana keberaniannya, optimismenya, kecerdasannya, dan banyak hal lainya.
Dia adalah “partner in crime” saya saat SMA, karenanya saya kenal lomba-lomba, karenanya saya kenal organisasi, karenanya saya berani bermimpi sangat tinggi, karenanya saya selalu ingat untuk berprestasi, karenanya pula saya suka baca novel (hehehe).
Sampai hari ini dia telah berhasil mewujudkan impiannya satu-persatu,
Dia telah berhasil ke jepang untuk exchange saat kuliah, dia beberapa kali dikirim kampusnya ke luar negeri, dan bulan depan dia akan berangkat melanjutkan S2-nya di Taiwan karena beasiswa. Saya selalu ingin untuk menjadi lebih dari dia, atau setidaknya saya dapat menyamainya, tapi sampai hari ini saya selalu tertinggal jauh olehnya.
Kemarin saat dia datang ke rumah, dia hanya datang sebentar saja tak seperti biasanya. Tak banyak pembicaraan serius diantara kita, tapi beberapa kalimatnya berhasil menampar saya, sangat telak, sangat keras, sampai saya saya tak benar-benar mampu melawannya. Bahkan cara dia melihat saya seolah menampar saya.
Sering kali dia mengatakan bahwa saya itu pintar, saya itu bisa melakukan ini dan itu, disaat saya sendiri tak benar- benar merasa dan meyakininya. Bahkan dia sering kali meyakinkan itu kepada orang tua saya. Saat kedatangannya syawal itu mungkin dia kecewa, mungkin melalui tatapannya dia ingin bicara “Hanya inikah kemampuanmu?”. Dan kadang dengan caranya menatap saya seperti itu dia berhasil menyadarkan saya. Sebelum akhirnya dia pulang kala itu dia sempat bilang bahwa “hidup ini tidak gampang”.
Melalui mereka saya diajarkan untuk terus bersyukur, karena bagaimanapun kondisi saya, saya telah mendapat nikmat lebih dari-Nya.
Melalui mereka saya diingatkan untuk tetap memelihara impian-impian itu, bagaimanapun keadaanya, mereka telah membangunkan impian-impian saya yang seolah selama ini terbelenggu dalam diri yang kadang kadang lupa dan salah arah.
Syawal ini menampar saya untuk meluruskan niat, bahwa dunia ini adalah ladang pengabdian yang sangat luas, bahwa setiap impian bukanlah hanya untuk kita, melainkan sarana mengabdi dan menjadi berarti bagi lebih banyak manusia lainnya.